SlameTux

2 Mei 2014: Hari Kedua di Rumah Sakit Mukti Husada

10 May 2014 - 17:54 WIB

Kamis tanggal 2 Mei 2014, sekitar jam 2.15 WIB aku terbangun. Aku kira sudah jam 5, eh ternyata masih jam 2.15 WIB. Satu kata untuk ini “dafuk”, ya gimana coba lagi enak-enakan ngimpi (bukan mimpi jorok, tapi mimpi joged) eh malah kebangun. Apes emang gak boleh joged di dalam mimpi kayaknya, cukup joged di dunia nyata saja. Aku terbangun mungkin karena aku kebelet pengen pipis :p

Ketika kuterbangun, tujuanku pada waktu itu hanya satu yakni melihat jam. Hehe :D penting banget melihat jam, soalnya biar tau jam berapa sebenarnya pada waktu itu. Ya karena masih dini hari, aku langsung mengecek keberadaan ebok. Dan alhamdulillah ebok tertidur pulas, bapak juga sedang tidur pulas. Sama-sama nyenyak banget tidurnya.

Kemudian aku balik ke tempat tidurku (tsah tempat tidurku ngaku-ngaku, ya maksudku tempat tidur pasien lain yang belum ditempati). Kupikir jam segini mau ngapain, masih jam 2.20 WIB. Akhirnya aku memberanikan diri untuk melakukan hal yang positif, emang apa? Tidur lagi? Ouw tidak, aku langsung menulis artikel yang kedua ini “2 Mei 2014 : Hari Kedua di Rumah Sakit Mukti Husada”, ya ini adalah hal menyenangkan.

Setelah dapat satu paragraf, kebelet pengen pipis makin tak tertahankan. Lah tadi pas bangun kenapa balik lagi ke tempat tidur? Kok gak langsung ke kamar mandi aja? Ya karena tadi hanya ingin melihat kondisinya ebok, takut ebok gak bisa tidur lagi. Setelah puas ngeluarin semua di toilet, ebok terbangun sejenak. Aku usapin keringat yang membasahi mukanya dengan sehelai tissue, aku menyuruh ebok untuk tidur kembali.

Setelah kupastikan bahwa ebok sudah tertidur lagi, aku langsung kembali ke tempat tidur guna melanjutkan artikel ini. Mungkin kasusnya sama ya dengan hari pertama “1 Mei 2014 : Hari Pertama di Rumah Sakit Mukti Husada”, di hari pertama aku juga menulis artikel pada jam segini. Suasana hening di rumah sakit, tanpa adanya gangguan dari sekitar membuat mood menulisku semakin meningkat.

Ya aku sebenarnya ingin terus melanjutkan tulisan ini, tapi masih belum ada cerita lagi. Jadi lanjutkan nanti lagi ya setelah bangun lagi, jadi sekarang udah mau tidur lagi? Yaeyalah, mukegile kalo aku gak tidur lagi. Emangnya harus ngapain jam segini? Hahaha ya alangkah lebih baiknya tidur lagi, agar besok bisa bangun pagi dan gak kebablasan.

Terpaksa aku memulai lagi cerita ini, inginnya aku tidur makanya kucoba mendengarkan lagu “Sumpah dan Cinta Matiku” by Nidji yang menjadi OST di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Bener sih beberapa menit hampir terlelap, namun harus terbangun karena ebok memanggil. Air infus tiba-tiba macet, dan rencananya aku ingin memanggil perawatnya tapi kuurungkan niatku dan kuperbaiki sendiri agar menetes lagi. Setelah selesai, langsung aku kembali ke tempat tidurku.

Tulisan dilanjut pada jam 10.10 WIB, karena pada waktu pulang ke rumah jam 5.00 WIB langsung tepar. Bangun sekitar jam 9.00 WIB. Ya lumayan lah waktu yang panjang buat tidur pagi, hahaha :D bangun bukannya langsung ke kamar mandi tapi ini malah maem terlebih dahulu. Selesai maem langsung capcus boker plus mandi.

Ada satu hal yang terlupakan, yakni “surat keterangan dokter” milik ebok yang belum kuserahkan kepada kepala sekolah tempat ebok mengajar. Dan alhasil aku terburu-buru berangkat menuju ke SDN Branta Pesisir 3. Sesampainya di sekolah, beruntung semua belum pada pulang. Aku langsung menemui kepala sekolah untuk menyerahkan suratnya, sedikit berbincang-bincang dengan kepala sekolah serta guru-guru yang lainnya.

Tanpa panjang lebar, aku betpamitan untuk berangkat lagi ke rumah sakit. Ya perjalanan sekitar 10km, dan sampai di parkiran rumah sakit sekitar jam 10.00 lebih untuk menyerahkan celana ganti kepada bapak dan mengganti kain kasa+perban yg ada di jari kelingkingnya. Ritual selanjutnya adalah melanjutkan menulis artikel ini, dan istirahat lagi. :D

Sekitar jam 10.30 WIB aku menuju ke Bank Jatim, untuk menanyakan surat kuasa pengambilan uang di sana. Dan ternyata di sana tidak menyediakan surat kuasa untuk perorangan, hanya menyediakan untuk perusahaan dan juga pensiunan. Jadi aku harus membuat sendiri surat kuasanya (ditulis tangan), keluar dari Bank Jatim dengan membawa slip penarikan langsung menuju ke fotocopyan untuk membeli kertas folio, bolpen boxi, dan materai seharga Rp.6.000,-

Ebok sedang diinfus dan beristirahat

Capcus ke rumah sakit langsung, menulis sendiri surat kuasa yang telah dicari contohnya sebelumnya di internet. Dan langsung diterapkan di kerta folio yang kosong tadi. Alhasil jadilah surat kuasa hasil kolaborasi antara SlameTux dan mbah Google. Thank’s ya mbah :D yuk cus shalat jum’at terlebih dahulu, lalu langsung berakat nanti jam 1.00 WIB ke Bank Jatim.

Setelah jum’atan sekitar jam 12.45 WIB, aku berangkat ke Bank Jatim. Parkir sepeda dan langsung masuk menuju ke teller, dan duduk rapi di kursi tunggu. Alhamdulillah beberapa saat kemudian nama Ibu Hayati / Bapak Slamet Imam (emang aku udah bapak-bapak? Preketek) disebut dan uang tabungan ebok di Bank Jatim bisa kuambil dengan membawa surat kuasa, slip penarikan dan juga fotocopy ktp plus ktp yang asli. Ya ini uang buat biaya berobat ebok selama berada di rumah sakit, jadi tidak perlu pinjam ke siapa-siapa.

Uang sudah di tangan, eh di saku maksudku, langsung capcus ke rumah sakit dan menyerahkan semua uang yang telah aku ambil tadi. Akupun pamit pulang, karena harus mengambil pakaian ganti milik bapak dan ebok di rumah. HP langsung dicas dan aku sambil istirahat sejenak, tiba-tiba ada panggilan masuk dari hp ebok dan menyuruhku untuk membawa hasil foto rontgen beserta obat-obatan yang didapat dari dokter sebelumnya. Lanjut mandi dan shalat ashar, setelah itu langsung capcus ke rumah sakit. Jadi artikel ini ditulis ketika sudah sampai di rumah sakit sambil menemani ebok.

Setiap hari berlalu lalang orang yang menjenguk ebok, mulai dari sudaranya ebok, ponakannya ebok, besannya ebok, menantunya ebok, dan juga teman-temannya ebok. Ruangan kamar yang tidak terlalu luas dan pengap karena hanya ada kipas angin (ada AC tapi gak bisa dinyalakan, karena gak termasuk ke dalam fasilitas apabila satu ruangan ada dua pasien) membuat suasana semakin panas (baca:gerah).

Walaupun jam besuk dimulai dari jam 6.00 WIB - 21.00 WIB, tetap saja ada yang membesuk ebok lebih dari jam yang telah ditentukan. Ya mungkin karena pada waktu siang tidak ada waktu untuk menjenguk, jadi disempatkan meskipun sudah lewat dari jam besuk. Semoga do’a-do’a dari yang menjenguk terkabulkan semua, sehingga ebok bisa segera sembuh dan sehat seperti sedia kala. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

Artikel ini kembali dilanjutkan ketika menanti infus segera diganti, karena sudah mulai hampir habis. Jadi harus tetap standby untuk memberitahukannya kepada perawat yang sedang bertugas malam ini. Kalau sampai habis, malah akan menyedot darah yang dari dalam ke luar, nah hal ini yang berbahaya. So harus tetap terjaga, seandainya ada seseorang yang menemaniku terjaga hehe asek :D

Menunggu infus hampir habis tuh seperti nunggu pacar yang tak kunjung tiba eaaa :p akhirnya setelah jam 22.30 WIB, infus pun mulai habis dan aku segera melaporkannya ke perawat jaga. Infus diganti, semua bisa tidur dengan nyenyak. Mulai dari ebok sendiri, bapak, dan aku masih menulis lagi artikel ini. Ya maklum gak ada koneksi internet samasekali di kamar ini, sinyal axis aja lemah banget. Apalagi koneksi internet, ya malahan gak ada samasekali. Menulis bisa meningkatkan rasa ngantuk lebih tinggi lagi, makanya meskipun jam 22.50 WIB seperti ini aku masih tetap menulis ya agar bisa segera tidur.

Inilah alasanku kenapa aku sudah jarang online dan jarang banget membalas chat ataupun email dari temans blogger maupun onliner, karena sinyal dan koneksi internet di kamar Nanas (tempat ebok dirawat) ini memang tidak ada samasekali. Baru bisa sempat membalas ketika sudah pulang ke rumah untuk mengambil sesuatu, dan setelah balik lagi ke rumah sakit rasanya tuh hampa banget alias miskin sinyal dan koneksi tewas seketika.

Barusan sekitar jam 23.00 WIB ebok nanya buburnya udah basi apa belum, ya karena belum basi aku suapin ebok. Semoga malam ini ebok bisa tidur lebih nyenyak lagi, agar besok bisa pulang ke rumah. Sekarang rasa ngantuk sudah menghampiri, mata sudah seperti jendela rumah yang mau ditutup ketika sudah memasuki waktu malam. Berbeda pada saat hari pertama di Rumah Sakit Mukti Husada, hari kedua ini lebih banyak nyamuk. Lebih menguras tenaga juga, karena harus mengurus keperluan di bank.

Untuk malam ini ceritanya sampai di sini saja ya, besok kita lanjutkan ke cerita selanjutnya pada tanggal 3 Mei 2014 : Hari Ketiga dan sekaligus terakhir di Rumah Sakit Mukti Husada.


TAGS   Rumah Sakit / Mukti Husada / Pamekasan / Ebok /


Author

Blogger yang berasal dari sebuah pulau di ujung timur Surabaya, sebut saja Pulau Madura, dengan segala keterbatasan untuk terus bisa berbagi informasi dengan sesama. Aktif di berbagai jejaring sosial sebagai traveller, fotografer, designer, content writer, dan buzzer. Serta memiliki hobi jalan-jalan, fotografi, desain, dan mengulas sebuah produk / jasa.

Recent Post

Recent Comments

Archive